Friday, February 11, 2022
Hari Suci Hindu
Hari Suci Hindu
Ada beberapa hari besar agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Hari besar itu ada yang berdasarkan Kalender Saka dan Kalender Bali.
Berdasarkan Kalender Saka
1. Hari Raya Nyepi
Hari suci umat Hindu ini dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari Suci Nyepi
mempunyai makna yang sangat mendalam, yakni sebagai hari kebangkitan, hari
toleransi, hari pembaruan, hari kebersamaan, hari kedamaian hingga hari
kerukunan nasional. Penanggalan tahun baru Saka
didasarkan pada hitungan Tilem Kesanga, yang dianggap sebagai hari penyucian
dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup.
Saat menyepi, umat Hindu memohon kepada Tuhan menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Berbagai rangkaian upacara pun dilakukan umat Hindu sebelum Hari Raya Nyepi. Diantaranya Melasti, Tawur (Pecaruan) dan Pengrupukan.
2. Hari Raya Siwaratri
Siwaratri mempunyai arti malam
agung turunya Siwa. Selain hari raya, Siwarati juga sebuah festival yang
digelar setiap tahun untuk memperingati hari turunnya Tuhan atau siwa. Peringatan
ini juga dikenal dengan istilah Padmarajati yang diperingati setiap tahun pada
malam ke-13 atau hari ke-14 di Bulan Magha dalam penanggalan Hindu.
Festival dirayakan dengan
mempersembahkan daun Bael atau Bilwa kepada Siwa. Selama sehari dan semalam
begadang. Sepanjang hari semua pemuja melafalkan mantra suci Pancaaksara yang
ditujukan kepada Tuhan “Om Nama Siwaya”.
Berdasarkan Kalender Bali
1. Hari Raya Galungan
Hari raya ini
dirayakan oleh umat Hindu Bali setiap 210 hari. Perhitungannya menggunakan
kalender Bali, yakni pada hari Budha Kliwon Dungulan, sebagai kemenangan Dharma
(kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).
Adapun rangkaian
hari Galungan yakni Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Hari Penyekeban,
Hari Penyajaan, Hari Penampahan, Hari Raya Galungan, Hari Umanis Galungan, Hari
Pemaridan Guru, Ulihan, Hari Pemacekan agung, Hari Raya Kuningan dan Hari Pegat
Wakan.
2. Hari Raya Kuningan
Hari raya ini dirayakan oleh umat Hindu Dharma Bali dan diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Kuningan. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali (ada 35 hari dalam satu bulan kalender Bali). Kuningan memiliki arti kata kauningan yang berarti mencapai spiritual dengan cara intropeksi supaya terhindar dari bahaya.
Pada Hari Kuningan, umat Hindu Bali membuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran. Nasi itu dijadikan sesaji sebagai tanda terima kasih dan suksmaning idep sebagai manusia yang menerima anugerah dari Hyang Widhi berupa bahan sandang dan pangan.
3. Hari Raya Saraswati
Hari raya ini diperingati
sebagai hari turunya ilmu pengetahuan. Umat Hindu Bali merayakan hari raya ini
setiap 210 hari dengan menggunakan perhitungan kalender Bali pada Sabtu
(Saniscara), Legi (Umanis), Watugunung. Di hari ini umat Hindu melakukan
pemujaan pada Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni.
4. Hari Raya Banyu Pinaruh
Upacara Banyu Pinaruh dilakukan setelah Hari Raya Saraswati, tepatnya pada Saniscara Umanis Watugunung. Tujuannya untuk pembersihan dan kesucian diri. Banyu berasal dari kata banyu yang berarti air (kehidupan). Sedangkan pinaruh berasal dari kata weruh yang berarti pengetahuan. Sehingga mempunyai makna memohon air sumber pengetahuan.
5. Hari Raya Pagerwesi
Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari raya ini diperingati setiap Rabu Kliwon wuku Sinta.
Upakara Yadnya
Yadnya
Pengertian Yadya
Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, dari
akar kata ”Yuj” berarti memuja, mempersembahkan, korban, Yadnya artinya suatu perbuatan atau upacara
persembahan korban suci yang
dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk melaksanakan persembahan
kepada Tuhan. Sarana yang diperlukan sebagai perlengkapan sebuah Yadnya disebut dengan istilah
Upakara. Upakara yang tertata dalam bentuk tertentu yang difungsikan sebagai sarana
memuja keagungan Tuhan disebut sesajen. Upakara dapat diartikan memberikan
pelayanan yang ramah tamah atau kebaikan hati. Dengan demikian sudah semestinya
setiap upakara yang dipersembahkan hendaknya dilandasi dengan kemantapan,
ketulusan dan kesucian hati, yang diwujudkan dengan sikap dan prilaku ramah
tamah bersumber dari hati yang hening dan suci.
Tatacara atau rangkaian
pelaksanaan suatu Yadnya
disebut Upacara. Kata upacara dalam kamus Sansekerta diartikan: mendekati,
kelakuan, sikap, pelaksanaan, kecukupan, pelayanan sopan santun, perhatian,
penghormatan, hiasan, upacara, pengobatan.
Jenis-jenis Yadnya
a. Dewa Yadnya
Dewa yadnya adalah
persembahan suci yang dihaturkan kepada Sang Hyang Widhi dengan segala manisfestasi-Nya.
Contoh Dewa Yadnya dalam
kesehariannya, melaksanakan puja Tri Sandya, sedangkan contoh Dewa Yajña pada
hari-hari tertentu adalah melaksanakan piodalan/puja wali di pura dan lain
sebagainya.
“kāòksanta karmaṇāṁ siddhiṁ yajanta iha devatāá,
kṣipraṁ hi mānuṣe loke siddhir
bhavati karma-jā”
Terjemahannya: Mereka yang menginginkan keberhasilan yang timbul dari karma, berYajña di dunia untuk para deva, karena keberhasilan manusia segera terjadi dari karma, yang lahir dari pengorbanan (BG. IV.12).
b. Rsi Yadnya
Rsi Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada para Rsi. Mengapa Yajña ini dilaksanakan, karena para Rsi sudah berjasa menuntun masyarakat dan melakukan puja surya sewana setiap hari. Para Rsi telah mendoakan keselamatan dunia alam semesta beserta isinya. Bukan itu saja, ajaran suci Veda juga pada mulanya disampaikan oleh para Rsi. Para Rsi dalam hal ini adalah orang yang disucikan oleh masyarakat. Ada yang sudah melakukan upacara dwijati disebut Pandita, dan ada yang melaksanakan upacara ekajati disebut Pinandita atau Pemangku. Umat Hindu memberikan Yadnya terutama pada saat mengundang orang suci yang dimaksud untuk menghantarkan upacara Yadnya yang dilaksanakan.
c. Pitra Yadnya
Pitra yadnya merupakan bentuk rasa hormat dan terima kasih kepada para Pitara atau leluhur karena telah berjasa ketika masih hidup melindungi kita. Kewajiban setiap orang yang telah dibesarkan oleh leluhur untuk memberikan persembahan yang terbaik secara tulus ikhlas.
d. Manusa Yadnya
“yeyathāmāṁ prapadyante tāṁs tathaiva bhajāmy aham,
Mamavartmānuvartante manusyaá partha sarvaṡaá”.
Terjemahannya: Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku
terima wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan (BG.IV.11)
Ada beberapa perbuatan yang
diajarkan oleh Veda sebagai bentuk pelaksanaan dari ajaran Manusa Yajña, yaitu:
a. membantu orang lain.
b. menjenguk dan memberikan
bantuan teman yang sakit.
c. melakukan bakti sosial, donor
darah.
d. memberikan sumbangan beras kepada orang yang tak mampu
e. membantu memberikan petunjuk jalan kepada orang yang tersesat
f. membantu fakir miskin yang sangat membutuhkan pertolongan
e. Bhuta Yadnya
Upacara Bhuta Yadnya adalah korban suci untuk para bhuta, yaitu roh yang tidak nampak oleh mata tetapi ada di sekitar kita. Tujuan dilaksanakannya upacara Bhuta Yadnya adalah menetralisir kekuatan bhuta kala yang kurang baik menjadi kekuatan bhuta hita yang baik dan mendukung kehidupan umat manusia.
Orang Suci Hindu
Orang Suci Agama Hindu
Pengertian
Orang suci terdiri dari kata orang dan suci, orang berarti
manusia, dan suci berarti kemurnian dan kebersihan lahir batin. Jadi, orang
suci ialah manusia yang memiliki kekuatan mata batin dan dapat memancarkan
kewibawaan rohani serta peka akan getaran-getaran spiritual, welas asih, dan
memiliki kemurnian batin dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama.
Pengelompokan Orang Suci
1. Golongan Eka Jati
Golongan Eka Jati adalah orangsuci yang melakukan pembersihan diri tahap awal yang disebut Mawinten. Setelah melewati tahap mawinten, Golongan Eka Jati dapat memimpin upacara keagamaan yang bersifat TriYadnya. Orang suci yang termasuk kelompok Eka Jati, yaitu pemangku (pinandita), balian, dalang, dukun, wasi, dan sebagainya.
2. Golongan Dwi Jati
Syarat-syarat Menjadi Orang Suci
1. Laki-laki yang sudah menikah atau tidak menikah seumur
hidupnya (sukla brahmacari).
2. Wanita yang sudah menikah atau tidak menikah seumur
hidupnya (sukla brahmacari).
3. Pasangan suami istri yang sah.
4. Usia minimal 40 tahun.
5. Paham bahasa Kawi, Sansekerta, Indonesia, menguasai
secara mendalam isi dari kitab suci Veda, dan memiliki pengetahuan umum yang
luas.
6. Sehat jasmani dan rohani.
7. Berbudi pekerti yang luhur.
8. Tidak tersangkut pidana.
9. Mendapat persetujuan dari gurunya (Nabe).
10. Tidak terikat dengan pekerjaan di luar kegiatan
keagamaan, (Duwijo dan Susila, 2014: 14).
Tugas dan Kewajiban Orang Suci
Sebagai orang suci tentu memiliki kewajiban dan tugas dalam
kehidupan sehari-hari. Berikut ini tugas dan kewajiban dari orang suci.
1. Melaksanakan Sūrya Sewana setiap pagi.
2. Memimpin persembahyangan umat.
3. Memimpin pelaksanaan upacara Yadnya sesuai kitab suci
Veda.
4. Melaksanakan Tirta Yatra.
5. Aktif dalam kegiatan untuk meningkatkan kesucian diri.
6. Mampu memberikan ajaran dharma pada umatnya,
Ajaran Susila Agama Hindu
Ajaran Susila Agama Hindu
Susila
merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting
bagi tata kehidupan manusia sehari- hari.
Kata
Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila".
"Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti
perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik
terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan
lingkungannya.Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah
laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia
dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.
Pola hubungan tersebut
adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau)
mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti
menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula
menyakiti diri sendiri. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek
ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan di bawah ini
Tri Kaya Parisudha
- Manacika artinya berpikir yang baik dan benar atau suci
- Wacika artinya berkata yang baik dan benar
- Kayika artinya berbuat atau bertingkah laku yang baik dan benar
Panca Yama dan Niyama Brata
- Ahimsa, tidak melakukan kekerasan
- Brahmacari, masa menuntut ilmu/masa aguron-guron
- Satya, kesetiaan dan kejujuran
- Awyawaharika, melakukan usaha menurut dharma
- Astenya, tidak mencuri milik orang lain.
- Akroda, tidak marah
- Guru susrusa, hormat taat dan tekun melaksanakan ajaran-ajaran dari guru
- Sauca, suci lahir batin
- Aharalagawa, memilih makan yang baik bagi tubuh kita dan makan, minum secara teratur untuk mencapai kesucian lahir batin.
- Apramada, tidak sombong angkuh.
Tri Mala
- Moha adalah pikiran yang buruk
- Mada adalah perkataan yang buruk
- Kasmala, adalah perbuatan yang buruk.
Sad Ripu
- Kama artinya hawa nafsu
- Lobha artinya loba/tamak.
- Krodha artinya kemarahan
- Moha artinya kebingungan
- Mada artinya kemabukan
- Matsarya artinya iri hati
Catur Asrama
- Brahmacari Asrama adalah tingkat masa menuntut ilmu/masa mencari ilmu.
- Grhasta Asrama adalah tingkat kehidupan berumahtangga.
- Wanaprasta Asrama berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian.
- Saniasa/Bhiksuka/Sanyasin adalah tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas.
Catur Purusa Artha
- Dharma atau kebaikan dimana manusia harus memiliki akar kebaikan dalam dirinya
- Artha atau Kekayaan dimana dengan memiliki kekayaan yang cukup kita bisa melanjutkan kehidupan kita
- Kama atau nafsu dimana ini merupakan sifat alamiah dari manusia
- Moksa atau Kebebasan dari ikatan keduniawian dimana disini berarti dengan kekayaan dan nafsu yang sudah cukup terpenuhi
Catur Warna
- Brāhmaṇa Varna
- Kṣatriya Varna
- Waiṣya Varna
- Śudra Varna
Catur Guru
- Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orangtua kita,
- Guru Pengajian adalah guru yang mengajar di sekolah,
- Guru Wisesa adalah pemerintah
- Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi.
Tata Susila Hindu Dharma
Dasar dari Tata Susila
Agama adalah dasar tata susila yang kokoh dan kekal, ibarat landasan bangunan, dimana suatu bangunan harus didirikan. Jika landasan itu tidak kuat, maka mudah benar bangunannya roboh. Demikian juga halnya dengan tata susila; bila tidak dibangun atas dasar agama sebagai landasan yang kokoh dan kekal, maka tata susila itu tidak mendalam dan tidak meresap dalam diri pribadi manusia.
Tata susila yang berdasarkan ajaran-ajaran agama, atau yang berpedoman atas ajaran kerohanian sebagai yang terdapat di dalam kitab suci Upanisad (wedanta), Tattwa-tattwa (tutur-tutur), mulai dengan dalil atau axioma yang mengakui tunggalnya jiwatman (roh) semua mahluk dengan Brahman atau Paramatma, yang tutur di Bali sering menyebut dengan nama Parama Ciwa (Hyang Widhi Wasa)
Sejarah Tempat Suci atau Pura
Sejarah Pura
Pura Besakih
Pura Uluwatu
Pura Luhur Tanah Lot
Pura Taman Ayun
Pura Goa Lawah
Pura Ulun Danu Beratan
Pura Ulundanu Batur
Pura Lempuyang
Pura Watu Klotok
Sejarah Kebudayaan Hindu
Sejarah Kebudayaan Hindu
Dahulu, jauh sebelum bangsa kolonial datang ke Nusantara, sudah ada orang-orang yang lebih dahulu sampai ke Nusantara. Orang-orang ini adalah para pedagang dari India dan China. Melalui jalur perdagangan merekalah, agama Hindu-Buddha mulai hadir di Indonesia.agama Hindu-Buddha, memiliki kerajaan yang sangat besar di Nusantara. Contohnya Sriwijaya, yang merupakan kerajaan agama Buddha dan Majapahit yang merupakan kerajaan agama Hindu
Menurut para ahli sejarah, cara masuk dan proses penyebaran agama Hindu-Budha di Indonesia terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Masyarakat Nusantara berperan pasif
Maksudnya adalah masyarakat Nusantara mempelajari agama Hindu dan Buddha melalui masyarakat India dan China yang datang ke Nusantara.
2. Masyarakat Nusantara berperan aktif
Masyarakat Nusantara belajar langsung ke India dan China untuk mempelajari agama tersebut secara mendalam kemudian kembali ke Nusantara sebagai penyebar agama tersebut.
Dari 2 cara tersebut, muncul 5 teori tentang masuknya agama Hindu-Buddha. 3 untuk yang berperan pasif dan 2 untuk yang berperan aktif. Berikut ini adalah teori-teorinya:
PASIF
1. Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh Van Leur. Ia mengemukakan bahwa para kaum brahmana diundang datang ke Nusantara karena ketertarikan raja-raja yang berkuasa dengan ajaran agama Hindu dan Buddha. Sehingga raja-raja tersebut mendatangkan para kaum brahmana untuk mengajarkan agama tersebut untuk raja dan rakyatnya.
2. Teori Waisya
Dikemukakan oleh N.J.Krom yang menyebutkan bahwa para pedagang yang beragama Hindu dan Buddha lah penyebar utama agama tersebut di Nusantara. Karena perdagangan pada jaman dahulu menggunakan jalur laut dan bergantung pada angin, ketika para pedagang ini menetap di Nusantara, mereka memperkenalkan agama dan kepercayaannya kepada masyarakat.
3. Teori Ksatria
Pada jaman masuknya Hindu-Buddha ke Nusantara, di daratan India dan China sedang berlangsung perang saudara. Raja-raja yang kalah peperangan melarikan diri ke Nusantara untuk berlindung. Lambat laun mereka mendirikan kerajaan kembali di Nusantara dengan corak-corak yang berhubungan dengan agama Hindu atau Buddha yang sebelumnya mereka anut. Nah, teori ini dikemukakan oleh C.C. Berg, Mookerij, J.C. Moens.
AKTIF
1. Teori Arus Balik
Teori ini berasumsi bahwa perkembangan ajaran Hindu dan Buddha yang pesat di India, kabarnya sampai terdengar sampai ke Nusantara, dan kemudian menarik minat para kaum terpelajar di Nusantara untuk berguru ke India. Setelah mereka berguru dan pulang ke Nusantara, mereka mulai menyebarkan agama baru yang mereka pelajari disana sebagai pemuka agama dan pendeta. Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch.
2. Teori Sudra
Para budak dari India dan China datang ke Nusantara karena dibawa oleh pemiliknya atau karena mencari kehidupan yang lebih baik. Pada saat mereka menetap di Nusantara, mereka berasimilasi dan berakulturasi dengan penduduk sekitar. Hal tersebut membawa perubahan pada penduduk yang pada awalnya memeluk Animisme dan Dinamisme, berganti memeluk agama Hindu atau Buddha. Teori ini dikemukakan oleh van Faber.
Kebudayaan Hindu dan Buddha tidak hanya memengaruhi cara beribadah masyarakat Nusantara pada jaman itu, tetapi juga memberikan beberapa peninggalan lain. Misalnya kerajaan yang pernah berkuasa, tempat keagamaan, prasasti, cara hidup, dan masih banyak lagi.
Kitab Suci Agama Hindu
Kitab Suci Weda
Turunnya Weda
Turunnya Weda berkaitan dengan zaman Weda dalam fase perkembangan agama Hindu. Weda diturunkan oleh Ida Sang Hyang Widhi kepada Maha Sri dalam jangka waktu yang sangat panjang. Kata "Weda" berasal dari akar kata bahasa Sanskerta, yaitu "Vid", yang maknanya adalah mengetahui. Secara keseluruhan, Weda dapat diartikan sebagai pengetahuan suci dari Sang Hyang Widhi Wasa. Zaman Weda dimulai saat datangnya bangsa Arya, yang berasal dari Austria, Hungaria, dan Babylonia, ke India, tepatnya di Lembah Sungai Indus. Namun, sebelum sampai di India, tepatnya di Selat Bosporus, mereka terpisah. Bangsa Arya yang membawa kebudayaan Weda melanjutkan perjalanan ke arah India. Sedangkan kelompok lainnya menuju Iran, dengan membawa kebudayaan Awesta. Oleh karena itu, terdapat kemiripan sejumlah kata dalam Kitab Weda dan Kitab Awesta. Misalnya, di Kitab Weda ada kata Soma, sementara di Kitab Awesta ada kata Houma. Selain itu, terdapat kata Shindu di Kitab Weda dan kata Hindu pada Kitab Awesti
Bagian Weda
Ketika sudah mengenal tulisan, wahyu dari dari Sang Hyang Widhi Wasa kemudian disusun dan dibukukan. Tokoh yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya dan membukukannya menjadi Weda adalah Maharesi Byasa. Selain dikenal sebagai penulis kitab Weda, Maharesi Byasa juga membagi isinya. Dalam hal ini, ia dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana. Kitab Weda ditulis dengan bahasa Sansekerta yang hanya dipahami oleh kaum Brahmana (agamawan). Berikut ini empat bagian utama Weda (caturweda).
- Regweda, Salah satu bagian dari kitab Weda yang berisi syair puji-pujian kepada dewa yaitu Regweda. Mantra-mantra dalam bentuk puji-pujian tersebut digunakan untuk mengundang dewa supaya hadir dalam upacara keagamaan.
- Samaweda, Isi yang dimuat dalam Samaweda tidak berbeda jauh dengan Regweda, yakni berupa puji-pujian. Perbedaannya adalah, pujian di Samaweda dilantunkan dalam lagu.
- Yajurweda, Isi dari Yajurweda berupa yajus atau rapal yang digunakan untuk mengubah kurban yang menjadi makanan dewa. Melalui rapal Yajurweda, makanan yang dikurbankan akan pindah ke alam kedewataan dan dihubungkan dengan dewa.
- Atharmaweda, Kitab Atharmaweda mengandung mantra sakti dan ilmu gaib. Mantra itu digunakan untuk mendoakan mereka yang sedang sakit dan untuk menolak bahaya.
Konsep Weda
Kitab Suci Weda mengandung konsep tentang penciptaan yang bersifat tradisional, salah satunya terkait penciptaan melalui permisalan tumbuhan. Dalam Weda, tahapan penciptaan tumbuhan disebut sebagai jaringan Indra, yakni jaringan yang berbentuk cahaya yang tidak terbatas dan menjadi benang kehidupan yang terhubung secara terus-menerus. Kehadirannya seperti gelombang cahaya yang dapat menghilang dan muncul kembali. Jalinan benang kehidupan ini menjadi lebih stabil seiring berlalunya waktu, sehingga menghasilkan cahaya yang mengalir. Aliran cahaya inilah yang kemudian membentuk pohon.
Sifat Weda
- Weda tidak berawalWeda tidak berakhir
- Weda berlaku sepanjang zaman
- Weda bukan agama ciptaan manusia
- Weda bersifat fleksibel
Nilai Weda
Weda sebagai wahyu yang
diturunkan ke manusia mengandung nilai-nilai universal yang berlaku kepada
siapa saja. Nilai adalah ukuran tingkah laku yang ideal harapan masyarakat.
Adapun nilai yang terkandung dalam Weda adalah sebagai berikut.
- Keikhlasan
- Kebenaran
- Kasih sayang
- Kemurahan hati, dll
Nama Kelompok
Nama Kelompok XII IPS 1 Kadek Ayu Darmini (08) Kadek Orianto Efendi Musa (12) Kadek Serli Wulandari (13) Luh Putu Merliani Putri (15) Ni Ko...
-
Orang Suci Agama Hindu Pengertian Orang suci terdiri dari kata orang dan suci, orang berarti manusia, dan suci berarti kemurnian dan kebersi...
-
Ajaran Susila Agama Hindu Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat ( Tattwa ). Susila memegang peranan penti...