Friday, February 11, 2022

Nama Kelompok

 Nama Kelompok

XII IPS 1

Kadek Ayu Darmini (08)



Kadek Orianto Efendi Musa (12)



Kadek Serli Wulandari (13)



Luh Putu Merliani Putri (15)



Ni Komang Yuli Sariningsih (20)



Ni Luh Ekarini (21)



Ni Luh Sindi Pratiwi (23)





Putu Yuniari (29)




Hari Suci Hindu

Hari Suci Hindu



Ada beberapa hari besar agama Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Hari besar itu ada yang berdasarkan Kalender Saka dan Kalender Bali.

Berdasarkan Kalender Saka

1. Hari Raya Nyepi

Hari suci umat Hindu ini dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari Suci Nyepi mempunyai makna yang sangat mendalam, yakni sebagai hari kebangkitan, hari toleransi, hari pembaruan, hari kebersamaan, hari kedamaian hingga hari kerukunan nasional. Penanggalan tahun baru Saka didasarkan pada hitungan Tilem Kesanga, yang dianggap sebagai hari penyucian dewa-dewa di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup.

Saat menyepi, umat Hindu memohon kepada Tuhan menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Berbagai rangkaian upacara pun dilakukan umat Hindu sebelum Hari Raya Nyepi. Diantaranya Melasti, Tawur (Pecaruan) dan Pengrupukan.



2. Hari Raya Siwaratri

Siwaratri mempunyai arti malam agung turunya Siwa. Selain hari raya, Siwarati juga sebuah festival yang digelar setiap tahun untuk memperingati hari turunnya Tuhan atau siwa. Peringatan ini juga dikenal dengan istilah Padmarajati yang diperingati setiap tahun pada malam ke-13 atau hari ke-14 di Bulan Magha dalam penanggalan Hindu.

Festival dirayakan dengan mempersembahkan daun Bael atau Bilwa kepada Siwa. Selama sehari dan semalam begadang. Sepanjang hari semua pemuja melafalkan mantra suci Pancaaksara yang ditujukan kepada Tuhan “Om Nama Siwaya”.



Berdasarkan Kalender Bali

1. Hari Raya Galungan

Hari raya ini dirayakan oleh umat Hindu Bali setiap 210 hari. Perhitungannya menggunakan kalender Bali, yakni pada hari Budha Kliwon Dungulan, sebagai kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

Adapun rangkaian hari Galungan yakni Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Hari Penyekeban, Hari Penyajaan, Hari Penampahan, Hari Raya Galungan, Hari Umanis Galungan, Hari Pemaridan Guru, Ulihan, Hari Pemacekan agung, Hari Raya Kuningan dan Hari Pegat Wakan.



2. Hari Raya Kuningan

Hari raya ini dirayakan oleh umat Hindu Dharma Bali dan diperingati setiap hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Kuningan. Hari raya ini dilaksanakan setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali (ada 35 hari dalam satu bulan kalender Bali). Kuningan memiliki arti kata kauningan yang berarti mencapai spiritual dengan cara intropeksi supaya terhindar dari bahaya.

Pada Hari Kuningan, umat Hindu Bali membuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran. Nasi itu dijadikan sesaji sebagai tanda terima kasih dan suksmaning idep sebagai manusia yang menerima anugerah dari Hyang Widhi berupa bahan sandang dan pangan.



3. Hari Raya Saraswati

Hari raya ini diperingati sebagai hari turunya ilmu pengetahuan. Umat Hindu Bali merayakan hari raya ini setiap 210 hari dengan menggunakan perhitungan kalender Bali pada Sabtu (Saniscara), Legi (Umanis), Watugunung. Di hari ini umat Hindu melakukan pemujaan pada Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni.



4. Hari Raya Banyu Pinaruh

Upacara Banyu Pinaruh dilakukan setelah Hari Raya Saraswati, tepatnya pada Saniscara Umanis Watugunung. Tujuannya untuk pembersihan dan kesucian diri. Banyu berasal dari kata banyu yang berarti air (kehidupan). Sedangkan pinaruh berasal dari kata weruh yang berarti pengetahuan. Sehingga mempunyai makna memohon air sumber pengetahuan.



5. Hari Raya Pagerwesi

Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru (Tuhan sebagai guru alam semesta). Hari raya ini diperingati setiap Rabu Kliwon wuku Sinta.

 Filosofi hari raya ini sebagai simbol keteguhan iman. Peger berarti pagar atau pelindung, sedangkan wesi berarti besi. Pager besi memiliki makna suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Hari raya ini diperingati dengan melakukan persembahyangan, mulai dari Sanggah/Merajan (tempat sembahyang di sekitar rumah) hingga ke Pura.




Upakara Yadnya

 Yadnya



Pengertian Yadya

Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, dari akar kata ”Yuj” berarti memuja, mempersembahkan, korban, Yadnya artinya suatu perbuatan  atau upacara persembahan korban suci yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran untuk melaksanakan persembahan kepada Tuhan. Sarana yang diperlukan sebagai perlengkapan sebuah Yadnya disebut dengan istilah Upakara. Upakara yang tertata dalam bentuk tertentu yang difungsikan sebagai sarana memuja keagungan Tuhan disebut sesajen. Upakara dapat diartikan memberikan pelayanan yang ramah tamah atau kebaikan hati. Dengan demikian sudah semestinya setiap upakara yang dipersembahkan hendaknya dilandasi dengan kemantapan, ketulusan dan kesucian hati, yang diwujudkan dengan sikap dan prilaku ramah tamah bersumber dari hati yang hening dan suci.

Tatacara atau rangkaian pelaksanaan suatu Yadnya disebut Upacara. Kata upacara dalam kamus Sansekerta diartikan: mendekati, kelakuan, sikap, pelaksanaan, kecukupan, pelayanan sopan santun, perhatian, penghormatan, hiasan, upacara, pengobatan.

Jenis-jenis Yadnya



a. Dewa Yadnya

Dewa yadnya  adalah persembahan suci yang dihaturkan kepada Sang Hyang Widhi dengan segala manisfestasi-Nya. Contoh Dewa Yadnya dalam kesehariannya, melaksanakan puja Tri Sandya, sedangkan contoh Dewa Yajña pada hari-hari tertentu adalah melaksanakan piodalan/puja wali di pura dan lain sebagainya.

“kāòksanta karmaṇāṁ siddhiṁ yajanta iha devatāá,

 kṣipraṁ hi mānuṣe loke siddhir bhavati karma-jā”

Terjemahannya: Mereka yang menginginkan keberhasilan yang timbul dari karma, berYajña di dunia untuk para deva, karena keberhasilan manusia segera terjadi dari karma, yang lahir dari pengorbanan (BG. IV.12).

Gambar : Jenis Dewa Yadnya

b. Rsi Yadnya

Rsi Yajña adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada para Rsi. Mengapa Yajña ini dilaksanakan, karena para Rsi sudah berjasa menuntun masyarakat dan melakukan puja surya sewana setiap hari. Para Rsi telah mendoakan keselamatan dunia alam semesta beserta isinya. Bukan itu saja, ajaran suci Veda juga pada mulanya disampaikan oleh para Rsi. Para Rsi dalam hal ini adalah orang yang disucikan oleh masyarakat. Ada yang sudah melakukan upacara dwijati disebut Pandita, dan ada yang melaksanakan upacara ekajati disebut Pinandita atau Pemangku. Umat Hindu memberikan Yadnya terutama pada saat mengundang orang suci yang dimaksud untuk menghantarkan upacara Yadnya yang dilaksanakan.

Gambar : Jenis Rsi Yadnya

c. Pitra Yadnya

Pitra yadnya merupakan  bentuk rasa hormat dan terima kasih kepada para Pitara atau leluhur karena telah berjasa ketika masih hidup melindungi kita. Kewajiban setiap orang yang telah dibesarkan oleh leluhur untuk memberikan persembahan yang terbaik secara tulus ikhlas.

Gambar: Jenis Pitra Yadnya

d. Manusa Yadnya

Manusa Yadnya adalah pengorbanan untuk manusia, atau acara yang dilaksanakan untuk memohon kesejahteraan manusia. 

“yeyathāmāṁ prapadyante tāṁs tathaiva bhajāmy aham,

Mamavartmānuvartante manusyaá partha sarvaṡaá”.

Terjemahannya: Bagaimanapun (jalan) manusia mendekati-Ku, Aku terima wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan (BG.IV.11)

Ada beberapa perbuatan yang diajarkan oleh Veda sebagai bentuk pelaksanaan dari ajaran Manusa Yajña, yaitu:

a. membantu orang lain.

b. menjenguk dan memberikan bantuan teman yang sakit.

c. melakukan bakti sosial, donor darah.

d. memberikan sumbangan beras kepada orang yang tak mampu

e. membantu memberikan petunjuk jalan kepada orang yang tersesat

f. membantu fakir miskin yang sangat membutuhkan pertolongan

Gambar: Jenis Manusa Yadnya

e. Bhuta Yadnya

Upacara Bhuta Yadnya adalah korban suci untuk para bhuta, yaitu roh yang tidak nampak oleh mata tetapi ada di sekitar kita. Tujuan dilaksanakannya upacara Bhuta Yadnya adalah menetralisir kekuatan bhuta kala yang kurang baik menjadi kekuatan bhuta hita yang baik dan mendukung kehidupan umat manusia. 

Gambar: Jenus Bhuta Yadnya



Orang Suci Hindu

Orang Suci Agama Hindu



Pengertian

Orang suci terdiri dari kata orang dan suci, orang berarti manusia, dan suci berarti kemurnian dan kebersihan lahir batin. Jadi, orang suci ialah manusia yang memiliki kekuatan mata batin dan dapat memancarkan kewibawaan rohani serta peka akan getaran-getaran spiritual, welas asih, dan memiliki kemurnian batin dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama.

Orang suci adalah orang yang dipandang mampu atau paham tentang agama Hindu. Ajaran agama Hindu memiliki banyak sebutan bagi orang suci, seperti Sulinggih, Maharsi, Bhagavan, dan sebutan gelar orang suci lainnya. 

Pengelompokan Orang Suci

1. Golongan Eka Jati

Golongan Eka Jati adalah orangsuci yang melakukan pembersihan diri tahap awal yang disebut Mawinten. Setelah melewati tahap mawinten, Golongan Eka Jati dapat memimpin upacara keagamaan yang bersifat TriYadnya. Orang suci yang termasuk kelompok Eka Jati, yaitu pemangku (pinandita), balian, dalang, dukun, wasi, dan sebagainya.



2. Golongan Dwi Jati

Golongan Dwi Jati adalah orang suci yang melakukan penyucian diri tahap lanjut atau madiksa. Orang yang telah melaksanakan proses madiksa disebut orang yang lahir dua kali. Kelahiran yang pertama dari kandungan ibu, sedangkan kelahiran kedua dari kaki seorang guru rohani (Dang Acarya) atau Nabe. Setelah melakukan proses madiksa, orang suci tersebut diberi gelar Sulinggih atau Pandita. Kata Pandita berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Pandit yang artinya terpelajar, pintar, dan bijaksana. Orang suci yang tergolong Dwi Jati adalah orang yang bijaksana. Orang suci yang termasuk kelompok ini, antara lain Pandita, Pedanda, Bujangga, Maharsi, Bhagavan, Empu, Dukuh, dan sebagainya. 




Syarat-syarat Menjadi Orang Suci

1. Laki-laki yang sudah menikah atau tidak menikah seumur hidupnya (sukla brahmacari).

2. Wanita yang sudah menikah atau tidak menikah seumur hidupnya (sukla brahmacari).

3. Pasangan suami istri yang sah.

4. Usia minimal 40 tahun.

5. Paham bahasa Kawi, Sansekerta, Indonesia, menguasai secara mendalam isi dari kitab suci Veda, dan memiliki pengetahuan umum yang luas.

6. Sehat jasmani dan rohani.

7. Berbudi pekerti yang luhur.

8. Tidak tersangkut pidana.

9. Mendapat persetujuan dari gurunya (Nabe).

10. Tidak terikat dengan pekerjaan di luar kegiatan keagamaan, (Duwijo dan Susila, 2014: 14).


Tugas dan Kewajiban Orang Suci

Sebagai orang suci tentu memiliki kewajiban dan tugas dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini tugas dan kewajiban dari orang suci.

1. Melaksanakan Sūrya Sewana setiap pagi.

2. Memimpin persembahyangan umat.

3. Memimpin pelaksanaan upacara Yadnya sesuai kitab suci Veda.

4. Melaksanakan Tirta Yatra.

5. Aktif dalam kegiatan untuk meningkatkan kesucian diri.

6. Mampu memberikan ajaran dharma pada umatnya, 

Ajaran Susila Agama Hindu

 Ajaran Susila Agama Hindu



Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari- hari.

Kata Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila". "Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan lingkungannya.Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.

Pola hubungan tersebut adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri.  Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan di bawah ini

Tri Kaya Parisudha

artinya tiga perilaku manusia berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang harus disucikan

  1. Manacika artinya berpikir yang baik dan benar atau suci
  2. Wacika artinya berkata yang baik dan benar
  3. Kayika artinya berbuat atau bertingkah laku yang baik dan benar

Panca Yama dan Niyama Brata

Panca Yama Brata merupakan lima macam cara mengendalikan diri secara lahir dari perbuatan yang melanggar susila.
Bagian-bagian Panca Yama Brata :

  • Ahimsa, tidak melakukan kekerasan
  • Brahmacari, masa menuntut ilmu/masa aguron-guron
  • Satya, kesetiaan dan kejujuran
  • Awyawaharika, melakukan usaha menurut dharma
  • Astenya, tidak mencuri milik orang lain.
Panca Nyama Brata merupakan lima pengendalian diri yang bersifat batiniah. 
Bagian-bagian Panca Nyama Brata:

  • Akroda, tidak marah
  • Guru susrusa, hormat taat dan tekun melaksanakan ajaran-ajaran dari guru
  • Sauca, suci lahir batin
  • Aharalagawa, memilih makan yang baik bagi tubuh kita dan makan, minum secara teratur untuk mencapai kesucian lahir batin.
  • Apramada, tidak sombong angkuh.

Tri Mala

Tri yang artinya Tiga dan Mala artinya kotor, buruk atau kejahatan, Jadi tri mala artinya tiga perbuatan kotor
  1. Moha adalah pikiran yang buruk
  2. Mada adalah perkataan yang buruk
  3. Kasmala, adalah perbuatan yang buruk.

Sad Ripu

Sad Ripu adalah enam macam musuh yang ada dalam setiap diri manusia. 
Bagian-bagian sad ripu:
  1. Kama artinya hawa nafsu
  2. Lobha artinya loba/tamak.
  3. Krodha artinya kemarahan
  4. Moha artinya kebingungan
  5. Mada artinya kemabukan
  6. Matsarya artinya iri hati

Catur Asrama

Catur Asrama terdiri atas dua kata yakni "Catur", yang berarti empat dan "Asrama", berarti tahapan atau jenjang. Jadi Catur Asrama artinya empat jenjang kehidupan yang harus dijalani untuk mencapai moksa.

  1. Brahmacari Asrama adalah tingkat masa menuntut ilmu/masa mencari ilmu.
  2. Grhasta Asrama adalah tingkat kehidupan berumahtangga.
  3. Wanaprasta Asrama berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian.
  4. Saniasa/Bhiksuka/Sanyasin adalah tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas.

Catur Purusa Artha

Catur berarti empat, dan Purusa berarti Hidup, sedangkan Artha berarti tujuan. Sehingga dapat disimpulkan Catur Purusa Artha adalah 4 tujuan hidup manusia

  • Dharma atau kebaikan dimana manusia harus memiliki akar kebaikan dalam dirinya
  • Artha atau Kekayaan dimana dengan memiliki kekayaan yang cukup kita bisa melanjutkan kehidupan kita
  • Kama atau nafsu dimana ini merupakan sifat alamiah dari manusia
  • Moksa atau Kebebasan dari ikatan keduniawian dimana disini berarti dengan kekayaan dan nafsu yang sudah cukup terpenuhi

Catur Warna

berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang, serta kualitas kerja yang dimiliki sebagai akibat pendidikan, pengembangan bakat yang tumbuh dari dalam dirinya dan ditopang oleh ketangguhan mentalnya dalam menghadapi suatu
  1. Brāhmaṇa Varna
  2. Kṣatriya Varna
  3. Waiṣya Varna
  4. Śudra Varna

Catur Guru

Catur Guru berarti empat Guru yang harus dihormati di dalam mencari kesucian serta keutamaan hidup.

  1. Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orangtua kita,
  2. Guru Pengajian adalah guru yang mengajar di sekolah,
  3. Guru Wisesa adalah pemerintah
  4. Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi.

Tata Susila Hindu Dharma

Tata Susila berarti peraturan tingkah laku yang baik dan mulia yang harus menjadi pedoman hidup manusia. Tujuan tata susila ialah untuk membina hubungan yang selaras atau perhubungan yang rukun antara seseorang dengan mahluk yang hidup disekitarnya.

Dasar dari Tata Susila

Agama adalah dasar tata susila yang kokoh dan kekal, ibarat landasan bangunan, dimana suatu bangunan harus didirikan. Jika landasan itu tidak kuat, maka mudah benar bangunannya roboh. Demikian juga halnya dengan tata susila; bila tidak dibangun atas dasar agama sebagai landasan yang kokoh dan kekal, maka tata susila itu tidak mendalam dan tidak meresap dalam diri pribadi manusia.

Tata susila yang berdasarkan ajaran-ajaran agama, atau yang berpedoman atas ajaran kerohanian sebagai yang terdapat di dalam kitab suci Upanisad (wedanta), Tattwa-tattwa (tutur-tutur), mulai dengan dalil atau axioma yang mengakui tunggalnya jiwatman (roh) semua mahluk dengan Brahman atau Paramatma, yang tutur di Bali sering menyebut dengan nama Parama Ciwa (Hyang Widhi Wasa)


Sejarah Tempat Suci atau Pura

 Sejarah Pura




Bali Pulau nan eksotis ini sangat identik dengan pura, karena pura merupakan tempat beribadah umat hindu, Jika anda mengunjungi pulau dewata ini, anda akan melihat di kiri maupun kanan jalan terdapat banyak pura pura besar maupun kecil. Oleh sebab itu pulau Bali juga di sebut sebagai Pulau Seribu Pura. Nah jika anda ingin mengunjungi Bali ataupun sedang berada di Bali, mungkin ada baiknya anda mengunjungi salah satu pura pura yang terkenal di Bali ini, selain terkenal, pura pura ini juga memiliki sejarah yang menarik untuk dipelajari dan untuk diketahui, berikut daftar daftar pura yang ada di Bali :

Pura Besakih 

Pura Besakih, yang juga merupakan Pura terbesar di Pulau Bali ini terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura di Bali. Pembangun Pura Besakih adalah seorang tokoh agama Hindu dari India yang telah lama menetap di pulau Jawa, nama beliau adalah Rsi Markandeya.

Jika sekarang anda lihat sebuah bangunan Pura megah, dulunya lokasi dari Pura ini adalah hutan belantara. Tentunya anda dapat membayangkan hutan belantara jaman dulu, pastinya akan banyak terdapat binatang buas. Konon dikala itu belum terdapat selat Bali seperti sekarang, karena pulau Jawa dan pulau Bali masih menjadi satu dan belum terpisahkan oleh lautan. Karena saking panjangnya pulau yang kita sebut sekarang dengan sebutan pulau Jawa dan pulau Bali, maka pulau ini diberi nama pulau Dawa yang artinya pulau panjang.

Awal mulanyan, Rsi Markandeya pendiri dari Pura ini bertapa di Gunung Hyang (Gunung Dieng di Jawa Tengah). Setelah lama bertapa Rsi Markandeya mendapat wahyu untuk merambas hutan di Pulau Dawa dari selatan menuju ke utara. Ditempat perambasan hutan, Rsi Markandeya menanam kendi yang berisikan logam dan air suci. Logam tersebut antara lain logam emas, logam perak,logam tembaga, logam besi dan logam perunggu. Kelima logam tersebut dimasyarakat Bali disebut dengan mama Pancadatu. Selain logam juga turut serta ditanam permata yang disebut Mirahadi yang artinya mirah utama. Tempat penanaman kendi inilah yang disebut dengan nama Basuki yang artinya selamat. Diberikan nama Basuki atau selamat dikarenakan dalam perambasan hutan para pengikut dari Rsi Markandeya selamat melaksanakan tugasnya. Dengan berjalanyan waktu nama Basuki berubah menjadi Besakih.
Gambar : Pura Besakih

Pura Uluwatu

Keindahan dari Pura ini akan dapat anda nikmati langsung jika anda berkunjung ke Pura ini. Pura Uluwatu berada di wilayah Desa Pecatu,Kecamatan Kuta,Badung.Pura yang identik dengan ciri khas yang terletak di ujung barat daya pulau Bali, di atas Anjungan Batu Karang yang terjal dan tinggi dan menjorok kelaut ini merupakan pura untuk memuja dewa Rudra Pura Luhur Uluwatu dalam pengider-ider Bali berada di arah barat daya sebagai pura untuk memuja Tuhan sebagai Batara Rudra. 

Kedudukan Pura Luhur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih. Karena itu umumnya banyak umat Hindu sangat yakin di Pura Luhur Uluwatu itulah sebagai media untuk memohon karunia menata kehidupan di bumi ini. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya Moksah atau Ngeluhur di tempat ini.

Gambar: Pura Uluwatu

Pura Luhur Tanah Lot

Pura Tanah Lot ini terletak di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Pembangunan pura ini erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di sini beliau pernah tinggal dan mengajar agama dalam perjalanannya dari Pura Rambut Siwi menuju Badung.Pujawali diadakan tiap Buda Wage Langkir. Pelinggih utamanya ada dua, satu untuk memulyakan Hyang Widi dalam manifestasinya sebagai Batara Baruna dan satu lagi untuk Danghyang Nirarta sebagai pendiri tempat ini. 

Suatu ketika, Danghyang Niratha melakukan perjalanan dari Pura Rambut Siwi yaitu pada sekitar tahun Icaka 1411 (1489M). Dalam perjalannya itu beliau dibuntuti oleh banyaknya anggota masyarakat yang mengikuti karena mengharapkan berkahnya. Ketika sampai di desa Beraban beliau menemukan tempat yang baik untuk bermalam dan sekaligus mengajar agama. Tempat itulah yang akhirnya dibangunnya menjadi sebuah pura yang sekarang memikat perhatian seluruh dunia karena keindahanya. 

Dahulu Pura Kahyangan ini diberi nama Pura Pekendungan, sekarang lebih dikenal dengan Pura Tanah Lot sebagai salah satu penyungsungan jagat. Kini Pura Kahyangan ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, tetapi sudah ke seluruh dunia. Pemandangan alamnya merupakan obyek wisata yang diincar oleh wisatawan dunia.
Gambar: Pura Luhur Tanah Lot

Pura Taman Ayun

Taman Ayun adalah sebuah pura sekaligus tempat wisata yang terletak di Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi,Kabupaten Badung. Pada awalnya Taman Ayun adalah sebuah kerajaan yang dibangun oleh Raja Mengwi bernama I Gusti Agung Ngurah Made Agung pada tahun 1634 yang hanya dipergunakan untuk kalangan keluarga kerajaan Mengwi. Kerajaan Mengwi juga merupakan salah satu kerajaan di Bali karena perekembangannya kerajaan Mengwi ditaklukan oleh kerajaan Badung. 

Taman Ayun memiliki arti sendiri Taman yang berarti Taman dan Ayun yang berarti Cantik. Taman ini memang sangat asri dan cantik, Pura atau taman ini berdiri diatas dan dikelilingi oleh sungai mengwi terlebih lagi di dalam taman ini ada sebuah museum manusia yadnya yang meperlihatkan sebuah ritual di Bali dari dalam kandungan hingga meninggal. Taman Ayun pernah hancur akibat gempa dashyat dan direnovasi kembali pada tahun 1934.

Gambar: Pura Taman Ayun

Pura Goa Lawah

Pura Goa Lawah berlokasi di Kecamatan Dawan Klungkung.Pura Goa Lawah yang dihuni oleh ribuan kelelawar ini termasuk sebagai Kahyangan Jagat atau Sad Kahyangan.Tidak diketahui pasti siapa pendiri Pura dan kapan berdirinya,tetapi pura ini diperkirakan dbangun pada abad ke-11 oleh Mpu Kuturan. Di bagian Pura,tepatnya di mulut goa terdapat pelinggih Sangggar Agung sebagai pemujaan Ida Sang Hyang Widhi,Meru Tumpang Tiga,Gedong Lima Sari dan Gedong Limas Catu. Dalam tradisi Hindu di Bali, Tuhan sebagai Dewa Laut itu disebut ”Bhatara Tengahing Segara”. Di Bali Pura Goa Lawah merupakan Pura untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Laut. Pura Goa Lawah inilah sebagai pusat Pura Segara di Bali untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Laut. 

Dalam Lontar Prekempa Gunung Agung diceritakan Dewa Siwa mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menyelamatkan bumi. Dewa Brahma turun menjelma menjadi Naga Ananta Bhoga. Dewa Wisnu menjelma sebagai Naga Basuki. Dewa Iswara menjadi Naga Taksaka. Naga Basuki penjelmaan Dewa Wisnu itu kepalanya ke laut menggerakan samudara agar menguap menjadi mendung. Ekornya menjadi gunung dan sisik ekornya menjadi pohon-pohonan yang lebat di hutan. Kepala Naga Basuki itulah yang disimbolkan dengan Pura Goa Lawah dan ekornya menjulang tinggi sebagai Gunung Agung. Pusat ekornya itu di Pura Goa Raja, salah satu pura di kompleks Pura Besakih. Karena itu pada zaman dahulu goa di Pura Goa Raja itu konon tembus sampai ke Pura Goa Lawah. Karena ada gempa tahun 1917, goa itu menjadi tertutup. 

Gambar : Pura Goa Lawah

Pura Ulun Danu Beratan

Pura Ulun Danu terletak di Desa Candi Kuning Tabanan yang juga dekat dengan Bedugul. Pura ini merupakan sebuah candi air besar di Bali.Candi ini terletak di tepi barat laut Danau Beratan di pegunungan dekat Bedugul,di tepi hilir ada banyak candi kecil air yang spesifik untuk setiap asosiasi irigasi.Candi ini berfungsi untuk upacara pesembahan untuk dewi-dewi danu atau dewi air. Sejarah pendirian Pura Ulun Danu Beratan sendiri dapat dilacak pada salah satu kisah yang terekam dalam Lontar Babad Mengwi. Dalam babad tersebut dituturkan mengenai seorang bangsawan bernama I Gusti Agung Putu yang mengalami kekalahan perang dari I Gusti Ngurah Batu Tumpeng. Untuk bangkit dari kekalahan tersebut, I Gusti Agung Putu bertapa di puncak Gunung Mangu hingga memperoleh kekuatan dan pencerahan. Selesai dari pertapaannya, ia mendirikan istana Belayu (Bela Ayu), kemudian kembali berperang melawan I Gusti Ngurah Batu Tumpeng dan memperoleh kemenangan. Setelah itu, I Gusti Agung Putu yang merupakan pendiri Kerajaan Mengwi ini mendirikan sebuah pura di tepi Danau Beratan yang kini dikenal sebagai Pura ulun Danu Beratan. 

Dalam Lontar Babad Mengwi juga dikisahkan bahwa pendirian pura ini dilakukan kira-kira sebelum tahun 1556 Saka atau 1634 Masehi, atau sekitar satu tahun sebelum berdirinya Pura Taman Ayun, sebuah pura lain yang juga didirikan oleh I Gusti Agung Putu. Pendirian Pura Ulun Danu Beratan konon telah membuat masyhur Kerajaan Mengwi dan rajanya, sehingga I Gusti Agung Putu dijuluki “I Gusti Agung Sakti” oleh rakyatnya.

Gambar : Pura Ulun Danu Beratan

Pura Ulundanu Batur

Pura Batur yang lebih dikenal dengan Pura Ulun Danu terletak pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut tepatnya di Desa Kalanganyar Kecamatan Kintamani di sebelah Timur jalan raya Denpasar-Singaraja. Pura Besakih disebut Pura Purusa, sedangkan Pura Batur disebut Pura Pradana. Di Pura Besakih, Tuhan dipuja untuk menguatkan jiwa kerohanian umat untuk mencapai kebahagiaan spiritual. Sedangkan di Pura Batur, Tuhan dipuja untuk menguatkan spiritual umat dalam membangun kemakmuran ekonomi. Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur semula terletak di kaki Gunung itu dekat tepi Barat Daya Danau Batur yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 Pura dan lebih dari ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura. 

Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, tempat pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tugas mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur. 

Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “sad kayangan” enam kelompok Pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai Pura “Kayangan Jagat” yang disungsung oleh masyarakat umum. Sejarah Pura Batur merupakan persembahan untuk Dewi Kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi Danu. 
Gambar : Pura Ulun Batur

Pura Lempuyang

Pura Lempuyang Luhur yang terletak di Bukit Gamongan Karangasem ini juga merupakan pura yang sangat terkenal di Bali, konon katanya Pura ini adalah pura tertua di Bali, sebenarnya cukup sulit untuk menjelaskan secara rinci tentang sejarah Pura Lempuyang ini, Sementara ini baru diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur yang sifatnya tidak langsung, ialah keterangan dalam prasasti Sading C type :Tinulad” dan keterangan yang terdapat dalam lontar Kutarakandha Dewa Purana Bangsul. 

Naskah turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang isinya menyebutkan sebagai berikut ” Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari itu beliau Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin perang. Karena beliau akan pergi ke bali karena disuruh oleh ayahnya yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti.” 

Prasasti Kutarakanda DewaPurana Bangsul, di dalam Lontar Kutarakanda DewaPurana Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya kira-kira sebagai berikut ” Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang Gnijayaçakti wahai anaknda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah perkataanku kepdada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana” 

Dari kedua sumber tersebut diatas ada dua hal yang penting dapat diambil yaitu: Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti “Gamongan” gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura. 
Gambar: Pura Lempuyang

Pura Watu Klotok

Apakah anda ingat ketika Bali terkena ledakan Bom Bali untuk yang kedua kalinya dan Bencana Tsunami di aceh? Pasca kedua bencana tersebut, di pura yang terletak di bibir pantai selatan kota Semarapura ini berlangsung dua kali upacara permohonan keselamatan dan kesucian dunia. Pantai Watu Klotok terletak di Banjar Celepik, Desa Tojan, Kabupaten Klungkung sekitar 7 km dari Pusat Kota Semarapura. 

Pura ini sangat berdekatan dengan pantai yang namanya sama dengan Pura ini. Pura Watu Klotok memiliki arti watu dalam bahasa Bali adalah Batu. Sedangkan Klotok memiliki artian “berbunyi“, jadi asal mula penamaannya yaitu ditemukannya sebuah batu yang berbunyi di pantai Watu Klotok ini. Sejarah singkat pendirian pura ini adalah ketika Mpu Kuturan melakukan perjalanan suci ke Bali pada abad ke-10 masehi. 
Dalam Lontar Dewa Purana Bangsul yang antara lain memuat: “Beliau Hyang Raja Kertha, datang ke pinggir laut tenggara yang diberi nama Silajong Watu Klotok, demikian disebut orang, mendirikan pura buat menjaga upacara untuk danau, mendatangkan hujan lebat, mengalirkan air selalu membawa kehidupan segala tumbuh-tumbuhan bagai jiwa alam sekalian”. Beliau Hyang Raja Kertha tiada lain adalah Mpu Kuturan.
Gambar: Pura Watu Klotok


Sejarah Kebudayaan Hindu

Sejarah Kebudayaan Hindu


Dahulu, jauh sebelum bangsa kolonial datang ke Nusantara, sudah ada orang-orang yang lebih dahulu sampai ke Nusantara. Orang-orang ini adalah para pedagang dari India dan China. Melalui jalur perdagangan merekalah, agama Hindu-Buddha mulai hadir di Indonesia.agama Hindu-Buddha, memiliki kerajaan yang sangat besar di Nusantara. Contohnya Sriwijaya, yang merupakan kerajaan agama Buddha dan Majapahit yang merupakan kerajaan agama Hindu

Menurut para ahli sejarah, cara masuk dan proses penyebaran agama Hindu-Budha di Indonesia terbagi menjadi 2, yaitu:

1.  Masyarakat Nusantara berperan pasif 

Maksudnya adalah masyarakat Nusantara mempelajari agama Hindu dan Buddha melalui masyarakat India dan China yang datang ke Nusantara.

2. Masyarakat Nusantara berperan aktif 

Masyarakat Nusantara belajar langsung ke India dan China untuk mempelajari agama tersebut secara mendalam kemudian kembali ke Nusantara sebagai penyebar agama tersebut.


Dari 2 cara tersebut, muncul 5 teori tentang masuknya agama Hindu-Buddha. 3 untuk yang berperan pasif dan 2 untuk yang berperan aktif. Berikut ini adalah teori-teorinya:

PASIF 

1. Teori Brahmana 

Teori ini dikemukakan oleh Van Leur. Ia mengemukakan bahwa para kaum brahmana diundang datang ke Nusantara karena ketertarikan raja-raja yang berkuasa dengan ajaran agama Hindu dan Buddha. Sehingga raja-raja tersebut mendatangkan para kaum brahmana untuk mengajarkan agama tersebut untuk raja dan rakyatnya.

Gambar: Teori Brahmana

2. Teori Waisya 

Dikemukakan oleh N.J.Krom yang menyebutkan bahwa para pedagang yang beragama Hindu dan Buddha lah penyebar utama agama tersebut di Nusantara. Karena perdagangan pada jaman dahulu menggunakan jalur laut dan bergantung pada angin, ketika para pedagang ini menetap di Nusantara, mereka memperkenalkan agama dan kepercayaannya kepada masyarakat. 

Gambar : Teori Waisya

3. Teori Ksatria 

Pada jaman masuknya Hindu-Buddha ke Nusantara, di daratan India dan China sedang berlangsung perang saudara. Raja-raja yang kalah peperangan melarikan diri ke Nusantara untuk berlindung. Lambat laun mereka mendirikan kerajaan kembali di Nusantara dengan corak-corak yang berhubungan dengan agama Hindu atau Buddha yang sebelumnya mereka anut. Nah, teori ini dikemukakan oleh C.C. Berg, Mookerij, J.C. Moens. 

Gambar: Teori Ksatria


AKTIF 

1. Teori Arus Balik 

Teori ini berasumsi bahwa perkembangan ajaran Hindu dan Buddha yang pesat di India, kabarnya sampai terdengar sampai ke Nusantara, dan kemudian menarik minat para kaum terpelajar di Nusantara untuk berguru ke India. Setelah mereka berguru dan pulang ke Nusantara, mereka mulai menyebarkan agama baru yang mereka pelajari disana sebagai pemuka agama dan pendeta. Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch. 

Gambar: Teori Arus Balik

2. Teori Sudra 

Para budak dari India dan China datang ke Nusantara karena dibawa oleh pemiliknya atau karena mencari kehidupan yang lebih baik. Pada saat mereka menetap di Nusantara, mereka berasimilasi dan berakulturasi dengan penduduk sekitar. Hal tersebut membawa perubahan pada penduduk yang pada awalnya memeluk Animisme dan Dinamisme, berganti memeluk agama Hindu atau Buddha. Teori ini dikemukakan oleh van Faber.

Gambar: Teori Sudra

Kebudayaan Hindu dan Buddha tidak hanya memengaruhi cara beribadah masyarakat Nusantara pada jaman itu, tetapi juga memberikan beberapa peninggalan lain. Misalnya kerajaan yang pernah berkuasa, tempat keagamaan, prasasti, cara hidup, dan masih banyak lagi.

Nama Kelompok

 Nama Kelompok XII IPS 1 Kadek Ayu Darmini (08) Kadek Orianto Efendi Musa (12) Kadek Serli Wulandari (13) Luh Putu Merliani Putri (15) Ni Ko...