Ajaran Susila Agama Hindu
Susila
merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting
bagi tata kehidupan manusia sehari- hari.
Kata
Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila".
"Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti
perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik
terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan
lingkungannya.Pengertian Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah
laku hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia
dengan alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih sayang.
Pola hubungan tersebut
adalah berprinsip pada ajaran Tat Twam Asi (Ia adalah engkau)
mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama, menolong orang lain berarti
menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula
menyakiti diri sendiri. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek
ajaran sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan di bawah ini
Tri Kaya Parisudha
- Manacika artinya berpikir yang baik dan benar atau suci
- Wacika artinya berkata yang baik dan benar
- Kayika artinya berbuat atau bertingkah laku yang baik dan benar
Panca Yama dan Niyama Brata
- Ahimsa, tidak melakukan kekerasan
- Brahmacari, masa menuntut ilmu/masa aguron-guron
- Satya, kesetiaan dan kejujuran
- Awyawaharika, melakukan usaha menurut dharma
- Astenya, tidak mencuri milik orang lain.
- Akroda, tidak marah
- Guru susrusa, hormat taat dan tekun melaksanakan ajaran-ajaran dari guru
- Sauca, suci lahir batin
- Aharalagawa, memilih makan yang baik bagi tubuh kita dan makan, minum secara teratur untuk mencapai kesucian lahir batin.
- Apramada, tidak sombong angkuh.
Tri Mala
- Moha adalah pikiran yang buruk
- Mada adalah perkataan yang buruk
- Kasmala, adalah perbuatan yang buruk.
Sad Ripu
- Kama artinya hawa nafsu
- Lobha artinya loba/tamak.
- Krodha artinya kemarahan
- Moha artinya kebingungan
- Mada artinya kemabukan
- Matsarya artinya iri hati
Catur Asrama
- Brahmacari Asrama adalah tingkat masa menuntut ilmu/masa mencari ilmu.
- Grhasta Asrama adalah tingkat kehidupan berumahtangga.
- Wanaprasta Asrama berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian.
- Saniasa/Bhiksuka/Sanyasin adalah tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas.
Catur Purusa Artha
- Dharma atau kebaikan dimana manusia harus memiliki akar kebaikan dalam dirinya
- Artha atau Kekayaan dimana dengan memiliki kekayaan yang cukup kita bisa melanjutkan kehidupan kita
- Kama atau nafsu dimana ini merupakan sifat alamiah dari manusia
- Moksa atau Kebebasan dari ikatan keduniawian dimana disini berarti dengan kekayaan dan nafsu yang sudah cukup terpenuhi
Catur Warna
- Brāhmaṇa Varna
- Kṣatriya Varna
- Waiṣya Varna
- Śudra Varna
Catur Guru
- Guru Rupaka atau Guru Reka adalah orangtua kita,
- Guru Pengajian adalah guru yang mengajar di sekolah,
- Guru Wisesa adalah pemerintah
- Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi.
Tata Susila Hindu Dharma
Dasar dari Tata Susila
Agama adalah dasar tata susila yang kokoh dan kekal, ibarat landasan bangunan, dimana suatu bangunan harus didirikan. Jika landasan itu tidak kuat, maka mudah benar bangunannya roboh. Demikian juga halnya dengan tata susila; bila tidak dibangun atas dasar agama sebagai landasan yang kokoh dan kekal, maka tata susila itu tidak mendalam dan tidak meresap dalam diri pribadi manusia.
Tata susila yang berdasarkan ajaran-ajaran agama, atau yang berpedoman atas ajaran kerohanian sebagai yang terdapat di dalam kitab suci Upanisad (wedanta), Tattwa-tattwa (tutur-tutur), mulai dengan dalil atau axioma yang mengakui tunggalnya jiwatman (roh) semua mahluk dengan Brahman atau Paramatma, yang tutur di Bali sering menyebut dengan nama Parama Ciwa (Hyang Widhi Wasa)
No comments:
Post a Comment